Batu Akik, Yes or No?

Tren pria memakai batu cincin atau akik begitu merebak sekarang ini. Hampir di setiap celah acara baik resmi maupun tak resmi, hanya gara-gara melihat batu cincin yang melingkar di jari manis, obrolanpun menjadi panjang dan lebar. Mulai dari bisnis, sampai hal mistis di dunia perbatuan. Celetukan beberapa orang dari mereka yang memang hobi atau mengais rezeki dari usaha jual-beli batu cincin tersebut memancing rasa penasaran. Benarkah memakai batu cincin itu sunah Rasulullah? Apa ada hal mistis atau kelenik ketika memakai batu cincin atau akik?! Halal atau Haramkah memakainya?!

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai cincin perak di tangan kanan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari batu habasyah (Etiopia), beliau menjadikan mata cincinnya di bagian telapak tangannya.” (HR. Muslim, No. 2094)

Hadits itulah yang menjadi landasan bahwa benar Rasulullah itu memakai batu cincin dan mengikatnya dengan perak. Batu yang dikenakan beliau peroleh dari Ethiopia. Berdasarkan refensi, batu apa saja yang dihasilkan dari negara tersebut, ternyata batu Zamrud menjadi hasil terbesar bagi bangsa yang pernah mengalami konflik kemanusiaan ini.

Dalam riwayat lain, Ibnul Qoyyim memiliki catatan mengenai cincin yang dikenakan oleh Rasulullah. Bahwa, sekembalinya Rasulullah dari Hudaibiyah kemudian beliau menulis surat kepada para raja di bumi yang dibawa oleh para kurirnya. Tatkala beliau hendak menulis surat kepada raja Romawi maka dikatakan kepadanya, ”Sesungguhnya mereka tidak akan membaca suatu surat kecuali apabila dibubuhi tanda (stempel).” Maka Rasulullah menjadikan cincinya yang terbuat dari perak yang diatasnya terdapat ukiran terdiri dari tiga baris sebagai stempel. Ukiran tersebut adalah Muhammad pada baris terbawah, Rasul pada baris selanjutnya dan Allah pada baris teratas. Beliaupun menyetempel surat-surat yang dikirimkan kepada para raja dengannya serta mengutus 6 orang pada satu hari di bulan Ramadhan tahun 7 H. (Zaadul Ma’ad, Juz I, Hal. 119 – 120)

Prophet Stamp

Bersebrangan dari hadits tersebut, ada juga yang menjadikan dalil berikut sebagai alasan bahwa memakai batu cincin itu haram. Diriwayatkan bahwa Rasulullah sendiri pernah membuang cincin yang melingkar di jari kanannya. Disaat Muhammad  SAW mengenakannya maka manusia (pada saat itu) membuat (cincin). Kemudian beliau Muhammad  SAW duduk di atas mimbar dan melepasnya seraya bersabda, ”Sesungguhnya aku mengenakan cincin ini dan menjadikan batu cincinnya dibagian dalam.” Maka beliau  melemparnya dan mengatakan, ”Demi Allah aku tidak akan mengenakannya selama-lamanya.” Maka orang-orang yang menyaksikannya saat itupun membuang cincin mereka.” (HR. Muslim)

Memakai batu cincin tidak disarankan, karena akan menimbulkan sifat keangkuhan. Terlebih di zaman sekarang, memakai batu cincin adalah gengsi bagi kalangan tertentu. Dikarenakan semakin bagus batu yang ia kenakan, maka akan semakin mahal harga yang menjadi acauan gengsi, pamor atau popularitas tentang sosok yang memakai batu tersebut. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan khurafat.

Sebagian masyarakat kita masih memelihara kepercayaan terhadap benda-benda mati. Mereka menganggap bahwa benda mati tertentu memiliki kekuatan, kesaktian atau keistimewaan yang sangat dahsyat. Sehingga bisa dijadikan sebagai jimat, senjata atau yang lainnya. Padahal, kepercayaan seperti ini hanyalah bersumber dari khurafat, khayalan dan halusinasi semata.

Keyakinan seperti ini masih mendarah daging dalam sebagian kaum muslimin di negeri kita ini. Batu akik, menurut sebagian orang memiliki kekuatan gaib atau kekuatan supranatural tertentu sehingga bisa dipakai sebagai jimat atau senjata kesaktian. Bahkan kita dapat menjumpai para pedagang yang menjual jimat model ini di daerah-daerah tertentu.

Berdasarkan Riwayat dari Ahmad, Al-Hakim dan Ibnu Hibban yang dinilai shahih oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang menggantungkan jimat, semoga Allah tak mengabulkan tujuan yang dia inginkan. Dan barangsiapa yang menggantungkan wada’ah (salah satu jenis jimat), semoga Allah tak menjadikan dirinya tenang.”

Rasulullah sudah menghapus segala bentuk khurafat termasuk kepercayaan khurafat terhadap jimat dan di dalamnya termasuk adalah mempercayai bahwa ada kekuatan magic di dalam batu akik. Rasulullah SAW bersabda ketika beliau berkhutbah pada Haji Wada’:

“Ketahuilah, seluruh perkara jahiliyyah terkubur di bawah kedua telapak kakiku.” (HR. Muslim no. 3009)

An-Nawawi rahimahullah mempertegas dengan hadits lainnya:

“Adapun perkataan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Terkubur) di bawah kedua telapak kakiku,” (hal ini) merupakan isyarat akan terhapusnya perkara tersebut.” (Syarh Shahih Muslim, 4/312.)

Bisa-bisa saja dan sah-sah saja atau boleh-boleh saja jika memakai batu cincin atau akik tersebut. Namun yang menjadi pertanyaan, sanggupkah mengahapus rasa riya (pamer) ketika kita memakai batu tersebut? Dan sudah kuatkah aqidah kita untuk menghapus perihal dugaan yang berbau khurafat dalam batu akik yang mampu menggeser ketauhidan kita? Ingatlah! Syaitan tidak akan pernah menyerah untuk menggoda dan menggeser aqidah manusia dengan menyisipkan nilai-nilai syirik sehalus apapun.

 

(Dari berbagai sumber)

Tags:

Reply