Fear Factor

“Takutlah kepada Allah dan taatilah Dia. Kemudian, bersedekah dan beramallah dengan penuh ketaatan agar kamu dapat memetik buah pahalanya kelak di hari kiamat.”
(Imam Al Ghazali)

Takut, tentu bukan hanya sekedar kata-kata yang terlintas di bibir saja, mestinya meresap juga di dalam hati. Tetapi bukan pula hati yang diam-diam menipu, yang biasanya dimiliki oleh orang-orang bermuka dua. Melainkan, hati yang sebenar-benarnya takut, tunduk dengan perintah dan larangan-Nya, zat-Nya, keberadaan-Nya. Cobalah renungkan, karyawan saja masih ada rasa takut dengan atasannya, kemudian tentara takut dengan komandannya dan murid takut dengan gurunya. Lalu, bagaimana ‘takut’ seorang hamba kepada Tuhannya. Apakah dibuktikan dengan sholat di akhir waktu, menunda-nunda mengeluarkan zakat atau berzina diam-diam?

Ada yang lebih ditakuti dari sekedar kawanan serigala, bos besar, jenderal berpangkat lima atau polisi di pinggiran jalan. Dialah Allah Sang Maha Besar Yang Empunya Segala-galanya. Yang dalam sekejap mata (Maha) mampu merubah tiada menjadi ada. Just Say, “Kun fayakun!” Maka, titahnya pun terwujud. Tentu, sebagai mahluk-Nya yang kecil harus lebih takut kepada Allah daripada seluruh aspek yang tercipta di bumi ini. Sebab, pada hakikatnya mereka juga milik Allah. Maka tidak heran jika Imam Al Ghazali mengatakan, “Orang mu’min sejati ialah orang yang takut kepada Allah, baik lidah, hati, penglihatan, perut, tangan dan kedua kakinya.”

running

Sebagaimana kisah yang indah ini. Syahdan namanya, ia sangat terlena dengan kecantikan seorang gadis dari suatu kabilah. Pada kesempatan yang tidak diduga mereka pergi bersama-sama ke sebuah tempat, dan bermalam di hutan yang gelap pekat. Akhirnya, karena keduanya tidak bisa tidur mereka berdua sama-sama terjaga. Hingga akhirnya gadis itu membuka pembicaraan. Dengan nada malu-malu, setengah berbisik ia bilang, “Adakah orang di sekeliling kita, malam ini?” Syahdan sebagai seorang lelaki biasa, tentu bergetar hebat. Hawa nafsunya meluap. Ia pikir, gadis ini sudah menyerah dengan kebosanannnya. Ia spontan menjawab, “Tidak ada siapa pun di sini.” Namun, gadis itu malah balik bertanya, “Benarkah tidak ada siapa pun? Bukankah ada Allah yang tidak pernah mengantuk?” Pertanyaan sekenanya itu membuat Syahdan terkejut dan memerah mukanya. Kontan ia pun kemudian lari sejadi-jadinya karena malu dan takut kepada Allah terhadap apa yang ia ingin lakukan terhadap gadis cantik jelita itu. Peristiwa tersebut membuat dirinya taubat dan meninggalkan gadis itu untuk selama-lamanya.

Betapa spektakulernya Allah mendeskripsikan rasa ‘takut’ itu kepada hamba yang dicintai-Nya. Sebenarnya, mudah bagi Allah saat itu membuat mereka masyuk dengan dosa. Namun, ruhiah takutnya kepada Allah membutakan nafsunya untuk tidak berbuat semacam itu. Sehingga, Allah mengampuni dosa-dosanya. Perihal tersebut selaras dengan apa yang pernah disabdakan Rasulullah SAW, “Jika kulit seorang hamba menggigil karena takut kepada Allah, maka dosa-dosanya menjadi berguguran sebagaimana gugurnya dedaunan dari pohon yang kering.” (HR. Al-Baihaqi).

Tags:

Reply