Kopi: Minuman Sufi yang Mendunia

Dengan sengaja kopi saya jadikan artikel paling awal di angin segar. Karena kopilah yang selalu menemani saya dalam beraktivitas di angin segar. Menulis, melay out dan mendesain tidak pernah tanpanya di sebelah saya. OK, begini ceritanya.

Kata kopi sendiri awalnya berasal dari bahasa Arab: قهوة‎ qahwah yang berarti kekuatan, karena pada awalnya kopi digunakan sebagai makanan berenergi tinggi. Kata qahwah mengalami perubahan menjadi kahveh ketika masuk ke Turki dan kemudian berubah lagi menjadi koffie dalam bahasa Belanda. Penggunaan kata koffie segera diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kata kopi yang dikenal saat ini.

Bermula di Afrika

Era penemuan biji kopi dimulai sekitar abad ke-3. Pada saat itu, banyak orang di Benua Afrika, terutama bangsa Etiopia mengonsumsi biji kopi yang dicampurkan dengan lemak hewan dan anggur untuk memenuhi kebutuhan protein dan energi tubuh. Penemuan kopi sendiri terjadi secara tidak sengaja ketika penggembala bernama Khaldi seorang Abyssinia, mengamati kawanan kambing gembalaannya yang tetap terjaga bahkan setelah matahari terbenam setelah memakan sejenis buah beri. Ia pun mencoba memasak dan memakannya. Kebiasaan ini kemudian terus berkembang dan menyebar ke berbagai negara di Afrika, namun metode penyajiannya masih menggunkan metode konvensional. Barulah beberapa ratus tahun kemudian, biji kopi ini dibawa melewati Laut Merah dan tiba di Arab dengan metode penyajian yang lebih maju.

Penyebaran Kopi di Arab

Kopi menyebar ke Yaman melalui budak-budak Sudan. Para budak memakan biji kopi untuk membantu tetap hidup karena mereka mendayung kapal menyeberangi Laut Merah, di antara Afrika dan Semenanjung Arab. Bangsa Arab yang memiliki peradaban lebih maju daripada bangsa Afrika saat itu, tidak hanya memasak biji kopi, tetapi juga direbus untuk diambil sarinya.

Pada Abad 13-15, agama Islam disebarkan oleh kaum Shadhiliyaa dengan menggunakan qahwah. Minuman ini kemudian menjadi populer di antara kaum Sufi. Diminum agar mereka dapat selalu terjaga saat melakukan dzikir di malam hari. Bahkan seorang sufi yang bernama Shadhili Abu Bakr ibn Abd’Allah al-’Aydarus menulis sebuah lagu kasidah sebagai penghormatan terhadap kopi. Sementara seorang ahli agama lainnya, Shaikh ibn Isma’il Ba Alawi, mengatakan bahwa kopi membantu manusia untuk mengalami ‘qahwat al-Sufiyya’ atau suka cita karena umatNya diperkenankan untuk menguak misteri pewahyuan Illahi.

Penggunaan kopi pun sampai ke Makkah lalu menyebar ke negara-negara Islam lainnya melalui para pengelana, pedagang, pelajar dan para petualang kopi akhirnya. Al-Azhar pun kemudian menjadi pusat orang minum kopi dan banyak kegiatan keagamaan yang menyertakan kopi ke dalam ritualnya. Kedai kopi pertama didirikan di Konstantinopel pada 1475. Kedai itu dikenal dengan Kaveh Kanes. Kedai kopi menjadi ajang berkumpul di mana Muslim bisa bersosialisasi dan mendiskusikan masalah-masalah agama.

Pelarangan Kopi

Pada masa itu beberapa kaum Muslim percaya bahwa kopi memabukkan dan harus dilarang. Pada 1511, Gubernur Makkah Khair Beg melihat beberapa jamaah minum kopi di sebuah masjid saat akan beribadah malam. Dengan marah ia mengusir mereka dari masjid dan memerintahkan semua kedai kopi di Makkah ditutup. Namun larangan itu akhirnya dibatalkan pada 1524 atas perintah penguasa Ottoman Turki Sultan Selim I dan Imam Besar Mehmet Ebussuud el-Imadi. Keduanya mengeluarkan fatwa yang membolehkan mengkonsumsi kopi.

Beberapa tahun kemudian, kopi di negara Arab mulai merambah dunia sekuler. Ahmet Pasha, Gubernur Mesir yang berkuasa ketika itu, membangun banyak kedai kopi sebagai proyek umum yang bertujuan untuk popularitas politik.

Pada bulan Ramadan di tahun 1539, semua kedai kopi di Kairo dihancurkan oleh massa dan ditutup selama beberapa hari. Kopi mulai dicurigai oleh banyak orang karena efek kafeinnya dan semangat ‘ngumpul’ orang-orang karena kopi ini. Kedai kopi pun dianggap sebagai saingan masjid dan kemudian dianggap minuman yang haram. Sultan Murat IV kemudian memutuskan untuk melarang adanya kedai kopi dan pelarangan ini didukung oleh kaum moralis. Tapi akhirnya ‘perang’ ini dimenangkan oleh kaum peminum kopi yang memang berpendidikan lebih tinggi, sangat religius dan mempunyai kedudukan politik.

Kopi Menyebar ke Seluruh Dunia

Biji kopi dibawa masuk pertama kali ke Eropa secara resmi pada tahun 1615 oleh seorang saudagar Venesia. Ia mendapatkan pasokan biji kopi dari orang Turki, namun jumlah ini tidaklah mencukupi kebutuhan pasar. Oleh kerena itu, bangsa Eropa mulai membudidayakannya. Bangsa Belanda adalah salah satu negara Eropa pertama yang berhasil membudidayakannya pada tahun 1616. Kemudian pada tahun 1690, biji kopi dibawa ke Pulau Jawa untuk dikultivasi secara besar-besaran. Pada saat itu, Indonesia masih merupakan negara jajahan Kolonial Belanda.

Lalu tersebutlah seorang sufi yang berasal dari India bernama Baba Budan. Ia pernah melakukan perjalanan relijius ke Timur Tengah pada Abad 17. Karena ketika itu kopi dilarang masuk di India, Baba Budan yang adalah penggila kopi ini mengikat beberapa bibit kopi di perutnya lalu menanamnya di kampung halamannya di perbukitan di Mysore, India. Sejak itulah pohon kopi tersebar ke seluruh dunia. Sampai hari ini bahkan perkebunan asli milik Baba Budan ini masih menghasilkan biji kopi dan memakai merk Budan Beans.

Nah.. Jadi tahu kan sekarang. So, jangan lagi bilang kalau ngopi itu niru budaya barat. Karena ternyata kopi itu minumannya para sufi.

 

Sumber: ROL, Kopling, Wikipedia

Tags:

Reply