Miracle in Cell No. 7: Cerita Pengorbanan Seorang Ayah

Pastinya Kamu pernah tahu serial TV Full House yang fenomenal di tahun 2004 silam? Melodrama Korea yang sempat merebut perhatian para pemirsa di Indonesia, khususnya kaum hawa. Bahkan baru-baru ini, serial tersebut sempat ditayangkan kembali oleh salah satu stasiun TV lokal karena memang antusiasme penontonnya tidak pernah surut. Seperti halnya serial TV, film-film layar lebar Korea juga memiliki basis penggemar yang tidak kalah. Nah, buat Kamu yang juga demam dengan film-film dari negeri gingseng ini, kami punya rekomendasi film yang yahud, judulnya Miracle in Cell No. 7.

miracle7-01

Film dimulai ketika Ye-sung dewasa (Park Shin-hye) mengunjungi sahabat-sahabat karib ayahnya yang dulu mendekam di penjara, ia mendatangi mereka dengan maksud agar bisa hadir dalam sebuah persidangan yang menyangkut kehormatan ayahnya. Lalu, seketika scene berpindah ke masa lalu. Ye-sung kecil (Kal So-won) dan ayahnya, Yong-gu (Ryu Seung-ryong) yang menderita keterbelakangan mental bernyanyi tokoh kartun jepang ‘Sailormoon’ di depan toko pernak-pernik sekolah. Sambil menikmati lagu tersebut Ye-sung kecil meminta ayahnya untuk dibelikan tas Sailormoon yang saat itu hanya tinggal 1 di toko tersebut. Ketika mereka asyik melihat tas itu dan berencana untuk membelinya saat ayahnya mendapat upah kerja nanti, tiba-tiba datang sepasang suami-istri dan putrinya membeli tas tersebut. Yong-gu, ayah Ye-sung spontan masuk ke toko dan mencegahnya. Tapi, apalah daya tas tersebut tetap terjual.

Keesokan harinya, Yong-gu yang bekerja sebagai juru parkir di Happy Mart, didatangi oleh seorang gadis kecil yang membeli tas sailormoon keinginan anaknya kemarin. Ia ingin memberitahu kalau di toko lain ada tas yang sama. Dengan polosnya, ikutlah Yong-gu mengekor di belakang anak itu. Sesampainya di jalur pasar entah kenapa anak itu terjatuh dan Yong-gu tertangkap basah oleh seorang wanita paruh baya sedang mencium dan membuka celana anak tersebut.

Menjelang malam, Ye-sung kecil masih menunggu ayahnya, namun setelah lama berdiam diri duduk di pinggiran jalan, ayahnya tidak kunjung datang. Dengan rasa cemas, ia pun kembali ke rumah. Paginya, tanpa seorang ayah ia kemasi sendiri peralatan sekolah ke dalam tas lusuh yang digantung di dinding rumahnya. Kemudian, ia berangkat ke sekolah sendiri, padahal hari itu adalah awal ia masuk ke sekolah. Hingga di pertengahan jalan, ia melihat banyak kerumunan orang, wartawan dan beberapa polisi yang sedang memegangi seorang lelaki bertopi yang ternyata ialah ayahnya. Tangisnya pun pecah. Ye-sung kecil memanggil-manggil ayah tercintanya. Ketika hendak menghampirinya seorang polisi menggendongnya. Yong-gu yang sedang mereka ulang kejadian, mendengar jeritan tangis anaknya. Dengan tergopoh-gopoh ia mendekatinya, tapi polisi mencegahnya. Yong-gu akhirnya hanya bisa berteriak ke arah anaknya, kalau ia janji akan pulang.

miracle7-02

Malang tak dapat ditolak, Yong-gu malah dijebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan berlipat ganda, yakni penculikan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap seorang anak komisaris polisi. Ia ditempatkan dalam sel dengan 5 napi yang memiliki latar belakang berbeda. Sedangkan, anaknya, Ye-sung mesti di kirim ke panti asuhan oleh polisi setempat. Akankah Ye-sung kecil kembali bersama ayahnya? Lalu, bagaimana dengan tuduhan yang ditujukan kepada ayahnya itu?

Melodrama yang penulisan skenarionya digarap langsung oleh sutradara Lee Hwan-kyung ini memiliki cerita yang sangat menyentuh. Hubungan antara ayah yang cacat mental dengan seorang anak yang sangat menyayanginya diceritakan dengan sangat hangat. Melalui film ini, Lee Hwan-kyung sengaja menyentil para orang tua. Di setiap scenenya seakan kita diajak merenungkan kembali arti sebuah pengorbanan dan kasih sayang. Alur ceritanya yang maju-mundur tetap dapat dinikmati dengan baik. Ditambah lagi, scoring garapan Lee Dong-jun sangat sukses membangun suasana yang membuat hati miris dan banjir air mata. Di samping itu, Kang Seung-gi sebagai sinematografer juga berhasil membuat kehidupan penjara yang begitu keras menjadi soft. Sehingga, film ini dapat juga ditonton bersama anak-anak di rumah.

miracle7-03

Miracle in Cell No. 7 ini dirilis pada tahun 2013 dan menjadi film terlaris mengalahkan The Berlin File yang juga rilis pada tahun itu. Dua bulan setelah rilis, film ini tercatat telah ditonton sebanyak lebih dari 12,3 juta kali, menjadikannya masuk ke dalam daftar 5 film terlaris di Korea. Maka tidak heran kalau film ini juga banyak meraih penghargaan dan nominasi. Yang paling bergengsi salah satunya di ajang 50th Grand Bell Award. Miracle in Cell No. 7 masuk dalam 8 nominasi dan memenangkan 3 di antaranya.

  • Aktor Terbaik – Ryu Seung-ryong
  • Special Jury Prize – Kal So-won
  • Skenario Terbaik – Lee Hwan-kyung
  • Nominasi – Sinematografi Terbaik – Kang Seung-gi
  • Nominasi – Sutradara Terbaik – Lee Hwan-kyung
  • Nominasi – Aktor Pendukung Terbaik – Oh Dal-su
  • Nominasi – Aktris Terbaik – Kal So-won
  • Nominasi – Aktris Terbaik Baru – Kal So-won

Reply