Monday Mayday

Tahukah kita, bahwa Rasulullah SAW pertama kali menerima wahyu dari Allah adalah pada hari Senin. Hari yang akan mengawali dakwah-dakwahnya yang penuh dengan rintangan. Rasulullah ditanya tentang hari Senin. Beliau menjawab: “Itu adalah hari aku dilahirkan, hari aku di utus menjadi Rasul atau diturunkan kepadaku wahyu.” (HR. Muslim).

Logikanya, ketika wahyu diturunkan, maka Beliau memulai mengemban tugas yang sangat berat dimulai hari Senin. Hari yang menjadikan setiap langkahnya merupakan dakwah.

Lalu, bagaimana dengan kita? Awal hari dari setiap pekannya menurut masehi adalah hari Senin, oleh karenanya semua aktivitas selalu berawal di hari ini. Monday Mayday bukan sebuah peringatan tentang daruratnya hari Senin. Tetapi bagaimana menghadapi hari Senin di saat semangat kerja malah mengalami penurunan paska hari libur. Bagaimana menghadapi hari yang penuh dengan kemacetan lalu lintas di waktu pagi. Belum juga ‘pertempuran’ itu dimulai, jiwa kita sudah me-reject-nya. Tidak dengan mencari sejuta alasan untuk masuk kantor siang hari, karena berbagai hal termasuk didalamnya alasan macet dan lain sebagainya.

Hari Senin adalah tempat berkumpulnya lingkaran energi dan semangat bagi setiap orang ‘ngantor’. Sejatinya sih memang begitu, namun jika masyarakat Jakarta saja –misalnya- di berikan polling tentang lebih semangat mana kerja hari Senin atau hari Jum’at, rasa-rasanya mayoritas memilih hari Jum’at. Kenapa? Simple saja jawabannya, karena dia bekerja di akhir minggu alias weekend.

Kata mayday adalah ungkapan darurat seperti halnya seorang pilot pesawat tempur yang ditembak jatuh lawannya “Mayday… Mayday… I am going down.” kata si pilot. Lalu apa hubungannya ‘kedaruratan’ dengan Monday? Monday mayday sangat menarik dijadikan penyemangat, menjadi sigap karena kondisi sedang darurat. Yah, rasanya kita masih harus berdekatan terlebih dulu dengan status darurat, sehingga selanjutnya bisa menjadi sigap baik dalam keadaan darurat ataupun lengang.

Tags:

Reply