Tanah Surga …Katanya: Pertaruhan Nasionalisme di Tapal Batas

Akhirnya, weekend datang lagi. Buat kamu yang masih belum punya acara weekend ini, nih kami kasih satu resensi film yang bagus. Walaupun rilisan tahun 2012, tapi film ini tetap OK banget untuk ditonton sekarang. Mumpung masih dalam suasana Hari Kebangkitan Nasional, ayo kita pertebal semangat nasionalisme dengan menonton film keren ini. Coba jalan-jalanlah ke toko DVD terdekat, cari film berjudul ‘Tanah Surga …Katanya’ ini.

Adalah Hasyim (Fuad Idris) seorang veteran yang pernah berjuang di perbatasan Indonesia – Malaysia pada tahun 1965,  ia tinggal bersama kedua cucunya Salman (Ossa Aji Santosa) dan Salina (Tissa Biani Azzahra) di pelosok Kalimantan Barat. Setiap ada kesempatan Hasyim selalu menceritakan perjuangannya saat mengusir pasukan Gurka di perbatasan antar negara kepada cucunya, Salman. Hingga suatu hari, Haris (Ence Bagus) anak Hasyim satu-satunya yang bekerja di Malaysia pulang ke kampung halaman lalu mengajak Hasyim beserta anak-anaknya untuk pergi dan tinggal di Malaysia. Haris beralasan bahwa negeri tersebut lebih mensejahterakan dan memakmurkan rakyatnya ketimbang negerinya sendiri, Indonesia. Namun, Hasyim menolak ajakan tersebut. Kali ini ia menolak bukan sebagai pejuang yang sedang membela negaranya, tetapi sebagai rakyat kecil yang memang cinta kepada negerinya.

Tanah Surga

Mendengar kakeknya menolak pergi ke Malaysia, Salman pun mengurungkan diri untuk ikut bersama ayahnya. Namun, Salina yang sebenarnya juga ingin menemani kakek dan kakaknya tidak mampu menolak ajakan ini. Karena ayahnya membujuk kalau nanti kakek dan kakaknya tersebut akan menyusul mereka. Dengan sedih hati akhirnya Salina pun terpaksa ikut dengan ayahnya hidup di negara tersebut.

Selain konflik di dalam keluarga Hasyim, film ini juga menggambarkan perjuangan seorang guru bernama Astuti (Astri Nurdin). Ia mengajar hanya di kelas 3 dan kelas 4 (yang juga  menjadi guru Salman dan Salina) di mana memang tidak ada guru lagi selain dirinya. Astuti berjuang agar anak-anak dusun melek membaca, berhitung dan mengenal identitas bangsanya sendiri. Kemudian, kemunculan dokter muda, Anwar (Ringgo Agus Rahman) yang dikenal juga sebagai ‘Dokter Intel’ oleh warga sekitar menjadi kisah tersendiri yang penuh pergolakan dan harapan untuk membantu mereka yang nasionalismenya dipertaruhkan di tapal batas yang memilukan.

Film yang disutradarai Herwin Novianto ini mengangkat isu berdasarkan fakta yang tidak dibuat-buat. Di mana kehidupan warga yang tinggal di perbatasan sangat memprihatinkan. Sedangkan hidup di negara tetangga di seberang sangatlah menggiurkan. Setiap hari nasionalisme mereka digempur, diuji atau bahkan malah ditanggalkan oleh mereka yang akhirnya menyerah. Kenyataannya memang banyak dari mereka yang akhirnya pindah ke Malaysia. Mereka juga tidak lagi menggunakan mata uang Rupiah, melainkan Ringgit Malaysia. Karena sebagian besar warga melakukan kegiatan jual beli di sana. Dan yang makin membuat miris ialah ketika digambarkan bahwa anak-anak yang bersekolah di dusun tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Dalam satu scene, ketika Dokter Anwar menggantikan Ibu Guru Astuti mengajar di sekolah, ia meminta anak kelas 3 dan 4 menyanyikan lagu kebangsaan. Namun, tidak diduga mereka malah membawakan lagu ‘Kolam Susu’-nya Koes Plus. Ini menjadi sentilan tersendiri untuk pemerintah Indonesia khususnya, agar lebih memperhatikan kembali rakyatnya di daerah perbatasan.

Tanah Surga

Di tangan Herwin Novianto topik yang serius tadi dibuat menjadi agak santai. Selipan humor dan joke yang natural tidak membuat pesan yang disampaikan terkesan menggurui dan kaku. Semuanya disetting se-fleksibel mungkin, tapi tetap mengena. Ditambah lagi  romansa percintaan antara Ibu Guru Astuti dan Dokter Anwar seakan menjadi bumbu penyedap di setiap plotnya. Apalagi film ini diproduseri langsung oleh aktor kawakan dan sutradara yang banyak menelurkan film-film berkualitas seperti Kiamat Sudah Dekat (2003), Nagabonar (Jadi) 2 (2007), Alangkah Lucunya (Negeri ini) (2010) yakni Deddy Mizwar. Tidak heran jika film ini diganjar 5 Piala Citra pada ajang FFI 2012.

  • Sutradara Terbaik : Herwin Novianto
  • Pemeran Pendukung Pria Terbaik : Fuad Idris
  • Tata Artistik Terbaik : Ezra Tampubolon
  • Tata Musik Terbaik : Thoersi Argeswara
  • Cerita Asli Terbaik : Danial Rifki

Film yang seluruh pengambilan gambarnya dilakukan di Kalimantan Barat ini adalah cermin untuk kita. Menjadi tolok ukur tersendiri untuk merenungkan kembali arti sebuah kebangsaan dan cinta  kepada ibu pertiwi. Apalagi ini menyangkut harga diri suatu negeri. Seperti yang pernah diceritakan Hasyim kepada anaknya, Haris (di awal scene). Pada tahun 1963 Bung Karno pernah menyatakan perang kepada Malaysia dengan meletusnya Operasi Dwikora. Operasi tersebut dilangsungkan, karena pada saat itu Malaysia menghina bangsa Indonesia, membakar gambar Soekarno dan menginjak-injak Sang Saka Merah Putih. Sampai sebegitunya seorang Soekarno membela kehormatan tanah air yang dicintainya. Lalu bagaimana dengan Kamu yang katanya cinta pada negeri ini?

Reply